Sedekahbaitullah.com – Sa’i merupakan salah satu rangkaian ibadah haji dan umrah yang dilakukan dengan berjalan bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Bagi sebagian orang, mungkin muncul pertanyaan sederhana: mengapa harus bolak-balik, dan mengapa jumlahnya tujuh kali? Apakah ini sekadar ritual, atau ada makna yang lebih dalam di baliknya?
Ternyata, sa’i bukan hanya aktivitas fisik semata. Ia adalah simbol perjalanan hidup seorang hamba dalam mencari pertolongan Allah ﷻ. Setiap langkah yang ditempuh bukan hanya berpindah dari satu titik ke titik lain, tetapi juga menggambarkan proses batin: antara harapan, usaha, dan keyakinan.
Sa’i berakar dari kisah luar biasa Siti Hajar, seorang ibu yang berjuang mencari air untuk putranya, Nabi Ismail ‘alaihis salam. Dalam kondisi yang sangat terbatas, di tengah padang pasir yang gersang, beliau tidak berdiam diri. Ia berlari, kembali, lalu berlari lagi, tanpa kepastian hasil. Namun justru dari kesungguhan itulah Allah menghadirkan pertolongan-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.” (QS. Al-Baqarah: 158).
Ayat ini menegaskan bahwa setiap rangkaian dalam sa’i bukanlah tanpa makna. Ia adalah bagian dari syiar, yang mengandung pelajaran besar bagi kehidupan seorang muslim.
Berikut 3 makna filosofis dari sa’i yang dilakukan bolak-balik sebanyak 7 kali:
1. Hidup Adalah Tentang Ikhtiar yang Tidak Sekali Jalan
Gerakan bolak-balik dalam sa’i menggambarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus dan instan. Sering kali, seseorang harus mengulang usaha yang sama, mencoba lagi dari awal, bahkan ketika hasil belum terlihat. Inilah realita kehidupan yang sering membuat seseorang merasa lelah dan ingin berhenti.
Namun sa’i mengajarkan hal sebaliknya. Bahwa usaha yang diulang bukanlah tanda kegagalan, melainkan bukti kesungguhan. Siti Hajar tidak berhenti hanya karena belum menemukan air di langkah pertama atau kedua. Ia terus bergerak hingga tujuh kali, tanpa kehilangan harapan.
Ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam hidup, keberhasilan sering kali datang setelah proses panjang yang penuh pengulangan. Maka, selama kita masih berusaha, sebenarnya kita belum gagal.
2. Kesabaran dan Harapan Harus Berjalan Bersama
Sa’i juga mengajarkan bahwa kesabaran tidak bisa dipisahkan dari harapan. Setiap langkah yang ditempuh oleh jamaah bukan sekadar gerakan fisik, tetapi juga membawa doa dan keyakinan di dalam hati.
Bayangkan jika seseorang berjalan tanpa harapan—langkahnya akan terasa berat dan kosong. Namun ketika harapan hadir, bahkan langkah yang melelahkan pun bisa terasa ringan. Inilah yang tergambar dalam sa’i: berjalan berkali-kali, meski secara kasat mata tidak ada perubahan.
Ini menjadi refleksi dalam kehidupan bahwa jawaban dari doa tidak selalu datang dengan cepat. Terkadang Allah menunda, bukan untuk menolak, tetapi untuk menguatkan. Sa’i mengajarkan kita untuk tetap berharap, bahkan ketika hasil belum terlihat sama sekali.
3. Tawakal Datang Setelah Usaha yang Sungguh-Sungguh
Salah satu pelajaran terbesar dari sa’i adalah tentang tawakal. Banyak orang memahami tawakal sebagai pasrah, padahal dalam Islam, tawakal adalah hasil dari usaha yang maksimal.
Siti Hajar tidak hanya berdoa, tetapi juga berlari. Ia tidak hanya berharap, tetapi juga bergerak. Dan setelah tujuh kali usaha itu dilakukan, barulah pertolongan Allah datang dalam bentuk air zamzam—sesuatu yang bahkan tidak terbayangkan sebelumnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikatlah (untamu), kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menegaskan bahwa tawakal harus didahului dengan ikhtiar. Sa’i menjadi gambaran nyata bahwa Allah ingin melihat kesungguhan hamba-Nya terlebih dahulu, sebelum menghadirkan jalan keluar yang terbaik.
Pada akhirnya, sa’i bukan hanya perjalanan antara dua bukit, tetapi perjalanan hati dalam memahami arti usaha, sabar, dan tawakal. Ia mengajarkan bahwa hidup ini penuh dengan proses, dan setiap proses itu bernilai di sisi Allah ﷻ.
Dari sini kita belajar bahwa ibadah haji bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi juga membentuk cara pandang dan karakter seorang hamba dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai yang terkandung dalam sa’i seharusnya tidak berhenti di Tanah Suci, tetapi terus hidup dalam keseharian kita.
Dan meskipun hari ini kita belum berada di antara Shafa dan Marwah, setiap langkah kebaikan yang kita lakukan bisa menjadi bagian dari perjalanan menuju Baitullah. Melalui Sedekah Baitullah di sedekahbaitullah.com, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga sedang menanam harapan untuk dipanggil menjadi tamu Allah.
Mari siapkan diri sejak sekarang dengan amal terbaik. Karena bisa jadi, dari sedekah kecil hari ini, Allah membukakan jalan besar menuju Tanah Suci dan menerima setiap langkah kita sebagai ibadah.
Penulis: Santi Puspita Ningrum







