Sedekahbaitullah.com – Sejarah Hajar Aswad menceritakan tentang batu mulia yang terletak di sudut Ka’bah, yang memiliki perjalanan panjang dan makna spiritual mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia. Batu ini bukan sekadar bagian dari Ka’bah, tetapi simbol kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Hajar Aswad telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan menjadi bagian penting dalam ibadah haji maupun umrah. Untuk mengetahui sejarah Hajar Aswad lebih dalam, yuk simak penjelasan berikut!
Sejarah Hajar Aswad

Hajar Aswad diyakini sebagai batu yang berasal dari surga dan diturunkan oleh Allah SWT ke bumi. Pada awalnya, batu ini berwarna putih bersih, namun berubah menjadi hitam karena dosa-dosa manusia.
Dalam proses pembangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama putranya Nabi Ismail ‘alaihis salam meletakkan Hajar Aswad di salah satu sudut Ka’bah sebagai penanda dimulainya tawaf.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 127)
Dilansir dari NU Online, Hajar Aswad menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Ka’bah dan dimuliakan oleh umat Islam hingga saat ini.
Keistimewaan Hajar Aswad
Hajar Aswad memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah sebagai batu yang akan menjadi saksi di hari kiamat bagi orang-orang yang menyentuhnya dengan penuh keimanan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hajar Aswad akan datang pada hari kiamat, memiliki dua mata dan lisan, dan akan bersaksi bagi orang yang menyentuhnya dengan benar.” (HR. Tirmidzi)
Selain itu, keberadaan Hajar Aswad juga berkaitan erat dengan ibadah tawaf yang diperintahkan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Ka’bah).”
(QS. Al-Hajj: 29)
Menurut Kementerian Agama, seluruh rangkaian ibadah di sekitar Ka’bah, termasuk mengawali tawaf dari Hajar Aswad, memiliki dasar syariat yang kuat.
Kisah Perebutan Peletakan Hajar Aswad
Dalam sejarahnya, pernah terjadi perselisihan antar kabilah Quraisy saat renovasi Ka’bah terkait siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad kembali ke tempatnya.
Perselisihan tersebut hampir menimbulkan konflik besar, hingga akhirnya Nabi Muhammad memberikan solusi bijak dengan membentangkan kain, lalu setiap perwakilan kabilah memegang ujung kain tersebut.
Kemudian Rasulullah sendiri yang meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya, sehingga perselisihan dapat diselesaikan dengan damai.
Makna Spiritual Hajar Aswad
Hajar Aswad bukan hanya sekadar batu, tetapi simbol ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT. Umat Islam mencium atau melambaikan tangan ke arahnya bukan untuk menyembah, melainkan mengikuti sunnah Rasulullah.
Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Nah, itulah sejarah Hajar Aswad yang penuh makna dan keistimewaan. Dengan memahami kisahnya, semoga kita semakin meningkatkan keimanan dan kerinduan untuk bisa mengunjungi Baitullah.
Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita menuju Tanah Suci dan memberikan kesempatan untuk menyentuh Hajar Aswad secara langsung.
Baca Juga: Sedekah Nasi Baitullah: 5.400 Porsi Makanan Tersebar untuk Tamu Allah di Tanah Suci!
Penulis: Santi Puspita Ningrum







